Pelaku keuangan syariah perlu mendapat sokongan penuh dari
pemerintah Indonesia guna menumbuhkan sistem perbankan syariah ini di
tanah air.
Dream - Perbankan syariah kini menjadi raising star
di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kemampuan sistem syariah
yang tahan krisis bisa menjadi andalan setiap negara dalam sistem
perbankannya.
Menurut pengamat ekonomi Aviliani, konsep syariah mampu menekan
kesenjangan antara masyarakat golongan menengah atas dengan golongan
bawah. Hal ini berbeda ketika sebuah negara hanya menggantungkan
perekonomiannya di pasar uang.
"Pasar uang itu tumbuh 3000 kali lipat, sementara pasar barang dan jasa tumbuh tidak terlalu cepat. Akibatnya bisa bubble,
terjadi krisis, nanti orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin
miskin, seharusnya kedua hal itu tumbuh beriringan," ujarnya di Jakarta,
Selasa, 18 November 2014.
Aviliani menjelaskan, dari 7 miliar orang populasi di dunia, hanya 6
ribu yang menguasai uang. Kondisi ini dikhawatirkan rentan terhadap
munculnya krisis akibat bubble dalam 7-10 tahun ke depan."Kalau syariah kan begitu ada laba maka langsung digunakan untuk investasi, ini yang membuat sistem syariah tahan krisis," jelasnya.
Namun, diakui Aviliani, sistem keuangan syariah ini tidak bisa tumbuh
dengan sendirinya. Pelaku keuangan syariah perlu mendapat sokongan
penuh dari pemerintah Indonesia guna menumbuhkan sistem perbankan
syariah ini di tanah air. Sayangnya, hal tersebut belum terealisasi.
"Aturan mengenai bank syariah belum proper. Di Malaysia, sistem perbankan syariah ini kan benar-benar tumbuh karena dukungan pemerintahnya secara penuh," ungkapnya.
Di antara berbagai sektor bisnis syariah, pemerintah dituding belum mengatur sektor pembiayaan yang bisa digarap bank syariah.
"Sekarang yang baru diatur mengenai sumber pendanaan bank syariah,
salah satunya dari dana haji. Namun, belum dari sektor pembiayaannya.
Misal, dari pembiayaan infrastruktur. Jika itu ditentukan baru perbankan
syariah bisa berkembang," pungkasnya

Posting Komentar