Ia mengemukakan bahwa pelaku pasar mengharapkan kenaikan harga BBM bersubsidi itu segera terealisasi sehingga beban defisit pada neraca transaksi berjalan Indonesia bisa berkurang dan mengurangi kekhawatiran investor terhadap perekonomian Indonesia ke depan."Namun, penguatan rupiah masih cenderung terbatas, sebagian investor masih terlihat waspada mencermati besaran kenaikan harga BBM bersubsidi itu," katanya.Saat ini, menurut dia, outlook mata uang rupiah masih cukup netral bergerak di kisaran Rp12.170-Rp12.210 per dolar AS.Dari sisi fundamental, lanjut Zulfirman Basir, pelemahan dolar AS terhadap mata uang yen Jepang juga cukup memberikan sentimen positif bagi nilai tukar rupiah untuk kembali terapresiasi pada awal pekan ini (Senin, 17/11)."Penguatan dolar AS terbebani setelah mengalami penguatan cukup signifikan terhadap yen Jepang, kondisi itu mendorong aksi ambil untung pelaku pasar keuangan," katanya.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Senin (17/11) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp12.193 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp12.206 per dolar AS.(rr)
View the original article here

Posting Komentar