Citi Indonesia menilai bahwa rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dapat membuka peluang perusahaan nasional melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI)."Pasar saham akan melihat kenaikan BBM secara positif sehingga peluang perusahaan IPO akan terbuka kembali, kondisi itu akan mendorong bisnis `underlying` (penjamin emisi efek) ke depannya," ujar Citi Country Officer Citi Indonesia Tigor M Siahaan di Jakarta, Senin.
Menurut dia, beberapa perusahaan domestik pada tahun ini cenderung menunda untuk melakukan IPO dikarenakan ada beberapa gejolak yang mengganggu perekonomian global maupun domestik. Diharapkan, dipangkasnya subsidi BBM dan mengalihkannya ke sektor produktif seperti pendidikan dan infrastruktur akan memacu ekonomi Indonesia tumbuh lebih baik.
"Pasar modal sangat mendukung pembangunan infrastruktur," ucapnya.
Ia mengakui bahwa kenaikan harga BBM subsidi itu akan berdampak pada meningkatnya inflasi, namun dampaknya relatif jangka pendek sekitar 3-6 bulan ke depan setelah realisasi kenaikan BBM bersubsidi.
"Kenaikan BBM bukan pertama kali, dan saya rasa bukan sesuatu yang akan mematikan ekonomi Indonesia. Perkiraan kita, inflasi Indonesia tidak akan lebih dari 7 persen, namun itu tergantung dari kapan diumumkannya penaikan harga BBM subsidi. Tetapi, inflasi kita cukup rendah selama ini," katanya.
Menurut Tigor M Siahaan, tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI rate) di level 7,5 persen masih cukup baik dan tidak "volatile". Ke depan, pasar akan mencermati kebijakan BI selanjutnya terkait tingkat suku bunga setelah realisasi penaikan harga BBM subsidi.
"Kalau dari segi tempo waktu dari dampak BBM itu hanya sampai 3-6 bulan, kemungkinan BI tidak perlu menaikkan suku bunga. Tetapi, mungkin ada juga pertimbangan lain untuk menyesuaikan inflasi," ujarnya. (ar)
View the original article here

Posting Komentar